"Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah mengurus urusan mereka secara patut adalah baik" (Al-Baqarah : 220)

Keutamaan Mengasuh anak yatim(klik for read more)

DALAM SEGALA KEADAAN TETAPLAH BERSYUKUR,KARENA BERSYUKUR ITU LEBIH BAIK DARIPADA KUFUR.

yang utama adalah aqidah dulu(klik for read more)

BERSAMA DALAM AL-HIMMATU KITA MEMBANGUN SEBUAH KEMANDIRIAN .

Saat muda taat ketika tua isyallah (klik for read more)

ORANG TIDAK DITENTUKAN OLEH APA YANG IA MILIKI KETIKA LAHIR,MELAIKAN APA YANG IA PERBUAT ATAS DIRINYA.

Gambar yang yang ditampilkan masih dalam percobaan

BERSABARLAH KALAIN DALAM SEGALA KEADAAN KAREA SESUNGUHNYA ALLAH SWT BERSAMA ORANG YANG SABAR.

Kisah anak dan Gambar ibunya.

APAPUN YANG TERJADI TETAPLAH TERSENYUM.

Jumat, 17 Februari 2012

Keutamaan Mengasuh Anak Yatim

Keutamaan Mengasuh Anak Yatim

Allah Ta’ala berfirman:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)
Allah Ta’ala berfirman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8 )
Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Aku dan orang yang mengurus anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah.” (HR. Al-Bukhari no. 6005)
Dari Abu Hurariah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Orang yang menanggung anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim no. 2983)

Penjelasan ringkas:
Anak yatim adalah anak lelaki atau wanita yang tidak mempunyai ayah -walaupun dia mempunyai ibu- sementara dia belum balig (Kitab Al-Yatim karya Dr. Abdul Hamid As-Suhaibani). Karenanya status ‘yatim’ dari seorang anak yang ditinggal mati ayahnya akan hilang dengan sendirinya ketika dia balig. Demikian pula anak yang ditinggal mati ibunya bukanlah yatim. Juga anak yang ditinggal mati ayahnya sementara dia sudah balig. Dan bukan pula termasuk yatim, anak yang belum balig yang ditinggal pergi oleh ayahnya (bukan ditinggal mati).

Jika kita melihat definisi yatim di atas, kita sudah bisa mengetahui apa hikmah disyariatkannya mengasuh anak yatim, yaitu karena mereka adalah anak-anak yang lemah serta kekurangan karena tidak adanya ayah yang bisa menafkahi dan melindungi mereka. Jika Islam mensyariatkan kepada setiap orang tua untuk berbuat baik kepada anak wanita mereka karena alasan yang kami sebutkan pada artikel sebelumnya, maka tentunya lebih disyariatkan lagi untuk berbuat baik kepada anak yatim, karena keadaan mereka lebih butuh pengasuhan dan perlindungan daripada yang dibutuhkan oleh anak wanita.

Karenanya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menjanjikan orang yang mengasuh anak wanitanya dengan baik bahwa dia akan bersama beliau di surga, maka dalam hal ini beliau juga menjanjikan kepada setiap pengasuh anak yatim bahwa dia akan dekat dan bersama dengan beliau di dalam surga. Sebaliknya, Islam mengharamkan untuk berbuat kasar dan membentak anak yatim tanpa ada alasan yang sangat kuat.

Kemudian, dalam hadits Abu Hurairah di atas terdapat tambahan faidah yang tidak terdapat dalam hadits Sahl bin Sa’ad sebelumnya, yaitu bahwa keutamaan ini mencakup setiap orang yang mengasuh anak yatim, baik itu anak dia sendiri (dalam hal ini ibunya) maupun anak dari orang lain. Dan juga berlaku umum baik anak yatim itu bukan kerabat apalagi jika dia termasuk dari karib kerabat, maka tentunya pahalanya jauh lebih besar.

Bersakit-sakit dahulu, Disiksa kemudian,Sebuah renungan.

Selalu ada orang yang menjadi budak dari berbagai jenis kenikmatan, berlaku kufur terhadap Pemberi nikmat, lalu menggunakan nikmat untuk mendurhakai Sang Pemberi. Begitulah waktu abadi orang yang ingkar kepada Rabbnya. Dan karena ingkarnya, Allah pun telah menimpakan berbagai adzab di dunia kepada mereka, sebelum nantinya ada adzab yang lebih dahsyat di akhirat.



Yang Durhaka Kemudian Binasa

Seperti yang dialami kaum ‘Aad. Mereka adalah kaum yang dianugerahi oleh Allah berupa kekuatan jasad, umur yang panjang dan kekayaan yang melimpah. Akan tetapi nikmat yang semestinya dimanfaatkan untuk mengabdi kepada Allah, justru dipergunakan untuk memusuhi-Nya,

”Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).” (QS. Huud: 59)

Diutusnya Huud atas mereka tidak disambut, melainkan dengan permusuhan. Ibnu Katsier menyebutkan riwayat dari Ibnu Ishaq, bahwa tatkala mereka berlaku kufur, maka Allah menahan turunnya hujan selama tiga tahun atas mereka. Hingga pada saat mereka melihat awan hitam yang menggelayut di langit, mereka bergembira dan menyangka bahwa itu pertanda hujan akan segera turun. Mereka bersorak kegirangan, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. Akan tetapi, Allah berfirman,

”(Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya.” (QS. al-Ahqaaf: 24-25)

Maka Allah tidak menyisakan mereka,

”Adapun kaum ‘Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. al-Haaqah 6-7)

Kisah yang serupa juga dialami oleh kaum Tsamud, kaum Luth, Fir’aun dan bala tentaranya, juga Qarun yang ditenggelamkan ke perut bumi beserta seluruh hartanya. Ini membuka mata manusia sepanjang masa, bahwa pada akhirnya nasib tragis di dunia akan menimpa orang yang ingkar dan durhaka kepada Penciptanya.

Janji Siksa di Neraka

Selain mereka, ada pula kaum atau personal yang telah dijanjikan siksa di neraka lantaran ingkar dan durhaka. Seperti al-‘Ash bin Wa’il. Ibnu Abbas bercerita, ”suatu kali ia mengambil tulang dari sebidang tanah, lalu dia tenteng dengan tangannya. Ia menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sembari berkata dengan sinis, “Apakah Allah akan menghidupkan orang ini setelah menjadi tulang belulang seperti ini?” Maka Nabi menjawab, “Ya, benar, Allah akan mematikan kamu, dan kelak Dia akan menghidupkan kamu lalu memasukkanmu ke dalam jahannam.” (HR al-Hakim)

Allah juga menjanjikan Abu Lahab dengan neraka lantaran kesombongan dan kekafirannya. Tatkala Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy untuk mendakwahi mereka, Abu Lahab memandang urusan itu terlalu sepele hingga para tokoh sekaliber dirinya diundang. Dengan sombongnya ia berkata, “tabban laka (yaa Muhammad), alihadza jama’tana?” Celakalah kamu wahai Muhammad, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?” (HR Bukhari)

Sebagai balasan atas kecongkakan dan celaan Abu Jahal tersebut, turunlah firman Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak”…dan seterusnya.

Ini sebagai balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sebagaimana kaidah, “fakaifa tadiinu tudaanu”, Sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan. Orang yang berlaku zhalim dan fajir akan merasakan pedihnya balasan siksa atas mereka.

Tersiksa Meski Bergelimang dengan Dunia

Yang seringkali luput dari pengetahuan dan penghayatan kaum muslimin adalah siksa dunia atas para pendurhaka. Hakikatnya, siksa yang menimpa orang yang fajir itu tak sebatas nasib tragis mereka di akhir hayat, atau sebatas siksa di akhirat saja. Jauh sebelum itu, tatkala mereka mengikuti selera nafsunya, ingkar dan membangkang kepada Penciptanya, sebenarnya siksa telah mereka rasakan pedihnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata tatkala menafsirkan firman Allah,

”Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam ‘jahim.” (QS. al-Infithar: 14)

”Jangan Anda sangka bahwa bahwa balasan ini hanya berlaku untuk penderitaan (jahim) di akhirat saja, bahkan di tiga alam; di alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat.”

Sekilas, mungkin tampak sulit dipahami, bagaimana mereka dikatakan sengsara dan menderita sementara kita menyaksikan sebagian mereka bergelimang dengan harta dan memperturutkan hawa nafsunya?

Namun, hakikatnya tidaklah sulit untuk dipahami, sebagaimana pula kita meyakini kebenaran firman Allah Ta’ala,

”Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia,” (QS. at-Taubah: 99)

Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, ”Siksa atas mereka itu adalah sesuatu yang bisa disaksikan. Siksa bagi para pemburu dunia, yang menggandrunginya dan lebih mengutamakan dunia dibanding akhirat adalah ambisi mereka untuk mendapatkan dunia, jerih payah mereka untuk mengumpulkannya, dan mereka didera oleh berbagai kesulitan untuk itu. Maka Anda tidak akan mendapatkan orang yang lebih lelah dari orang yang menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarnya.”

Keadaan mereka seperti yang digambarkan sebagaian salaf, ”Barangsiapa yang menggandrungi dunia, maka tiga musibah akan menimpanya; kegelisahan yang sudah pasti, kelelahan tanpa henti dan penyesalan tak terperi.”

Gelisah untuk bersegara mendapatkan keinginannya dan gelisah karena sesuatu yang diinginkan menjadi milik orang lain. Tak ada orang yang lebih parah sifat dengkinya dari orang yang hanya mengutamakan dunia. Makin kuat ambisinya, makin kronis kedengkian yang menyengsarakan hatinya. Karena dia ingin memiliki segalanya, hal yang mustahil untuk diraihnya. Allah menjadikan bayang-bayang kefakiran selalu di pelupuk mata mereka, tidak pernah rasa puas menyapa mereka. Besarnya ambisi untuk memburu kenikmatan yang belum diraih melupakan mereka untuk menikmati hasil yang telah didapatnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


”Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan (bayang-bayang) kefakiran berada di pelupuk matanya.” (HR Tirmidzi)

Adapun siksa berupa kelelahan dan keletihan sudah pasti. Seluruh raga, hati dan pikiran akan terforsir hanya untuk memperebutkan kenikmatan dunia semata. Sesekali merancang intrik, membuat makar dan bersiasat untuk menjatuhkan dunia orang lain, atau merebutnya dari tangan mereka. Sesekali juga harus mengorbankan segalanya untuk sebuah kehormatan duniawi yang semu.

Bersusah dahulu di Dunia, Lalu Tersiksa di Neraka

Setelah bersusah payah dan lelah dalam memburu dunia, ada yang kemudian berhasil meraih impiannya, ada pula yang gagal mendapatkannya. Namun keduanya sama saja bagi orang yang durhaka, semua berpotensi derita bagi mereka. Ibnul Qayyim RHM berkata, ”Barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah, maka ia akan merasakan pedihnya derita. Baik dia mendapatkan apa yang ia cintai ataupun tidak. Jika ia tidak bisa meraihnya, maka dia tersiksa lantaran tak bisa memilikinya, penderitaannnya sesuai dengan kadar ketergantungan hati terhadapnya. Dan jika apa yang dia inginkan tercapai, maka dia merasakan deritanya pada saat bersusah payah sebelum mendapatkannya, kekhawatiran setelah mendapatkannya, dan penyesalan setelah sesuatu itu hilang darinya.”

Ini seperti yang diungkapkan penyair Arab, ”Siapakah yang lebih tersiksa dari orang yang mencintai (dunia). Meski nafsu mendapatkan manisnya rasa, kau lihat dirinya selalu menyeka air mata. Karena takut akan berpisah darinya, atau karena rindu ingin segera bersua.”

Tidak disangkal, orang mukmin juga mengalami sebagian yang mereka rasakan, berupa keletihan dan kesusahan. Bedanya, setiap kelelahan yang menimpa seorang mukmin bersamaan dengan bergugurannya beban dosa di pundaknya, ia pun menjadi lega. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


”Tiada sesuatupun yang menimpa seorang muslim berupa kelelahan, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan dan kesusahan, hingga duri yang mengenai dirinya, melainkan dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari)

Berbeda dengan orang kafir yang tidak memiliki pengharapan kepada Allah, keletihannya adalah siksa, ’titik’. Kalaupun masih ada ’koma’, maka kalimat berikut berisi keletihan dan kepayahan yang lebih berat di neraka. Bersakit-sakit di dunia, disiksa kemudian di neraka. Nas’alullahal ’aafiyah.

Kamis, 16 Februari 2012

LIhatlah Hatimu

Wahai manusia lihatlah hatimu!
Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah.Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).

Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!
Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang sehat.
1. Hati yang Sehat
Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam setiap peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini. Alloh berfirman dalam surat as-Syu’ara ayat 88-89:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)
Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari berhukum kepada hukum selain Alloh dan Rosul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.
Alloh berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Alloh dan Rosul-Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurot: 1)
Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, ia senantiasa tenang, permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi dengan tegar, ia senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada zikir kepada Alloh senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan ayat-ayatNya maka bertambahlah imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang yang Alloh puji dalam Firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. Al-Anfaal: 2)
2. Hati yang Mati
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan dunia walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh, jika ia mencinta maka mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsu.
Alloh berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah: 23)
Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka dirinya tidak tergetar, ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia lebih senang mendengar suara-suara yang membuatnya lalai, ia lebih senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-suara yang menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta, kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup ia akan mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya, wahai betapa menderitanya pemilik hati ini!
3. Hati yang Sakit
Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini akan mengikuti unsur kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini cenderung kepada “kehidupan” dan terkadang cenderung kepada “penyakit”. Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan kepada syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap bangga diri.
Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rosul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab kepadanya.
Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada dalam ketaatan dan kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa. Amalannya senantiasa berubah sesuai dengan lingkungannya, jika lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadhu’, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.
Maka wahai kaum muslimin! hendaknya kita menginterospeksi diri kita sendiri, termasuk dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati kita termasuk dalam hati yang sehat, hati yang sakit atau malah hati kita telah mati? Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 49:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً
“Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfy: 49)
Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَاباً خُضْراً مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al Kahfy: 29,30)
Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agamamu, wahai zat yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh di atas ketaatan kepada-Mu…
***

Jumat, 20 Januari 2012

Saat Muda Taat, ketika Tua Isyallah Allah menjaga.


Sebagian remaja menghabiskan waktunya di masa muda dengan hal sia-sia. Jauh dari masjid, jauh dari majelis taklim, jauh dari mengenal Allah. Padahal masa muda adalah cerminan dari masa tua kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma-,
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.[1] Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan  larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah).
Keutamaan dari seseorang yang menjaga hak Allah, di antaranya Allah akan memberikan penjagaan pada dirinya ketika ia di usia senja. Ketika muda, ia taat mengerjakan shalat di masjid, ia rajin menghadiri majelis ilmu dan mendalami Islam, balasannya Allah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya meskipun ia sudah berusia di atas 60 tahun bahkan 100 tahun. Kisah-kisah berikut sebagai buktinya.
Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’irahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang mati di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada Allah dan menjauhi segala maksiat di waktu muda.[2]
Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut,  “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”[3]
Wallahu waliyyut taufiq.


[1] HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] Demikian cerita yang kami peroleh dengan sedikit perubahan redaksi dari kitab Matan Al Ghoyah wat Taqrib, yang memberikan syarh terhadap Matan Abi Syuja’ (Ikhtishorul Ghoyah).
[3] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225.